#El's 2

Jam tangan ku menunjukkan pukul tiga sore. Aku mengajaknya untuk kembali ke kampus. Dia memang seperti itu. Dingin. Aku selalu merasa di kutub utara apabila didekatnya. Ah, bercanda. Jika aku mengeluarkan lelucon dia hanya tertawa seadanya setelah itu mengulum tawanya.
                                                                             ***
"Kak Elsa.. Kita sudah sampai." 
Aku merindukannya. Deru ombak ini mengingatkan ku saat masih menjadi taruna. Kami melakukan survey di sungai dengan menaiki speedboat, dan dia pusing duluan dan muntah. Saat itu aku membantu menggosokkan minyak angin di lehernya. Survey pun tertunda karena dia. Dimana dia sekarang?
Sebuah tangan melambai-lambai di depan wajahku. Aku tersadar. Apa yang telah ku pikirkan? Aku menutup wajah ku dengan kedua tanganku. Perjalanan panjang ini benar-benar tidak terasa karena terbawa oleh pikiran ku.
"Kakak sakit?" kali ini tangan itu menampakkan wajahnya.
Aku menggeleng, Dia teman kerja ku. Kami dulu satu sekolah dan dia junior ku. Itulah mengapa dia memanggilku kakak. Rizky atau biasa ku panggil Kiki, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Kami berdua bekerja di sebuah perusahaan dalam bidang perkapalan. Kali ini kami berdua serta beberapa rekan kerja yang lain ditugaskan untuk mengecek kapal-kapal luar negeri yang berlabuh di pelabuhan ini. 
"Kakak ada masalah? Daritadi Kiki perhatikan kakak melamun saja." ucap Kiki sambil menggendong ranselnya.
"Kakak gak apa-apa kok. Butuh istirahat aja." aku menjawab sambil menarik koper ku.
"Sini kak, biar Kiki aja yang bawa kopernya." Kiki merebut koper ku.
Kebiasaan di kampus masih melekat dalam dirinya, taruna yang tanggap.
                                                                            ***
"Makanya kalo pagi itu sarapan." celetukku sambil menggosokkan minyak angin ke lehernya.
"Aku sarapan kok. Kalo  aku gak sarapan pasti sudah babak belur jariku karena push up kepal oleh tibtar senior." dia membela diri.
"Kamu pikir aku buta. Kamu hanya mengambil satu sendok nasi dan mengaduk-aduk dengan sayur di piringmu. Kau tidak makan sama sekali." ocehku.
"Maaf. Kamu jelek kalo marah." dia tersenyum kearahku.
Aku merasakan kalau wajahku memerah. Dia terus tersenyum menatapku. Aku menunduk dan berhenti memijat lehernya. Dia kembali menoleh ke arah sungai. Speedboat kami kembali kearah kampus. Survey ditunda. Aku sangat kecewa. Tapi, dia berhasil membuat jantung ku berdegup kencang. Aku tak berani menatapnya.
"Kamu bilang kamu akan membawa ku berlayar mengarungi samudera, di perairan kecil seperti ini saja kamu sudah pusing." ucapku sambil memainkan percikan air dari speedboat.
"Ah itu urusan nanti." ucapnya sambil cemberut.

 
                                                                    

------------------------------tbc

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RAMBU LAUT : LORAN DAN DECCA

15-05-2015 : LULUS !

Salah Ku