Sahur di Asrama
Cerita pendek ini merupakan cerita yang pernah ku buat saat SMA. Cerita ini pernah dimuat di koran, khusus untuk rubik sekolah ku. Mungkin ceritanya kurang begitu seru, tapi aku bangga karena cerpen ini dapat diterima oleh semua orang. Selamat membaca.
---------------
---------------
“Sahurr..Sahurr…Sahur…Bangun..Bangun…”
terdengar teriakan yang menyuruh kami untuk bangun. Ini adalah puasa hari
ketiga dan sahur pertama ku di asrama. Memang sedikit agak tidak enak didengar,
ya ! kata “asrama”. Kalian tahu? Setelah aku lulus di Sekolah Menengah Pertama,
aku melanjutkan sekolah ku di Sekolah Menengah Atas unggulan di daerah ku. Waw.
Aku sangat bangga, karena aku dapat diterima di sekolah unggulan ini. Tapi, ada
yang tidak mengenakkan bagi anak manja seperti ku, ya ! Kami harus menginap di
asrama. Apa boleh buat? Jika setelah beberapa hari aku menginap di asrama dan
aku tidak tahan untuk hidup di asrama dan memutuskan untuk pulang, orang tua ku
harus membayar ganti rugi uang asrama ku ini. Mengapa begitu? Karena semua biaya
sekolah ku ini GRATIIS..TIS…TIS… Oh iya, aku hampir lupa, aku harus bangun dan
bergegas untuk makan sahur.
“Eh, Chika.. Bangun
donk. Sahurrr…” teriakku sambil mengguncang-guncang badan Chika.
“Uuhh.. Males nih.
Makanan sahur kita apa, Cha?” Tanya Chika sambil mengucek-ngucek matanya.
“Meneketehek. Emang
nya aku juru masak disini. Toh inikan sahur pertama kita disini.” Jelas ku
kepada Chika.
“Huh, ya udah. Ayo
kita ke ruang makan. Sepertinya yang lain sudah ada disana.” Ajak Chika sambil
menarik tangan ku.
Hoaaamm… Mataku masih
mengantuk. Rasanya aku masih ingin membaringkan badan ku di tempat tidur. Tapi?
Tidak mungkin. Ini bukan di rumah, tapi di asrama. Aku tidak menghabiskan
makanan ku. Jujur saja, di asrama aku tidak selera makan. Mengapa? Masakannya beda
dengan masakan punya ibu ku di rumah.
“Echa, makanannya kok
tidak dihabiskan?” Tanya Cherlin kepada ku.
“Aku tidak selera
makan.” Jawabku sambil memain-mainkan sendok dan garpu yang ada di tangan ku.
“Cha, kalo kamu
makannya sedikit nanti kamu malah sakit.” Ucap Cherlin sambil menghabisakan
makanannya.
“Tapi, Cher? Aku
tidak suka makan ini. Aku mau masakan ibu ku.” Aku terisak menangis.
“Echa, kamu tidak
boleh seperti itu. Ya inilah resiko kita menginap di asrama. Makanannya di
habiskan ya?” Cherlin menghapus airmata ku.
Aku terdiam sejenak.
“Eum, baiklah.” Aku
menghabiskan makananku.
“Nah, begitu donk.
Ini baru Echa yang aku kenal dari SMP”
Aku berjanji, aku
harus menjadi anak yang mandiri, aku tidak boleh cengeng .
“Echaaa…..” teriak
Ghia meringis dihadapan ku.
“Lho kenapa?” Tanya
ku heran.
“Aku gak mau makan,
aku mau nya makanan yang dimasak oleh ibu ku.” Ledek Ghia.
“Eeerrgghh.. Bilang
saja kau meledekku kan? Heuh.. Sini kamu ! Aku gelitik nih..” ucap ku sambil
mengejar Ghia.
“Hahahaha.. Ampunn..Ampuunn…”
ucap Ghia sambil tertawa geli.
Komentar
Posting Komentar