Cinta berawal dari TAS SEKOLAH
Hai.. Cerita pendek ini ku buat saat kelas 9 SMP. Menurutku ini ceritanya ngawur banget, tapi entah kenapa aku mau ngeposting ini ke blog aku. Cerpen ini pernah ikut lomba, dan hasilnya nihil. Aku gak sedih karena gak menang, karena gak menang itulah aku jadi berusaha belajar membuat cerpen yang indah. Selamat membaca.
--------------------------------
--------------------------------
Aku berlari menuju gerbang sekolah.
“Pak, jangan ditutup!!” Aku berteriak kepada pak satpam yang akan menutup pintu
gerbang. “Cepat, upacara akan segera dimulai.” Seru Pak satpam. Akhirnya aku
sampai juga di sekolah. “Hey, tas nya diletakkan disini saja.” Pak satpam
memanggil ku dengan nada yang agak keras. “Baik, pak.”
Setelah
beberapa menit mengikuti upacara, seluruh barisan dibubarkan. Aku bergegas
menuju pos satpam untuk mengambil tas ku. Akan tetapi sepertinya ada yang tidak
beres. Tas ku menghilang ! Oh My God, didalam tas itu berisi laptop yang akan
ku gunakan untuk pelajaran TIK nanti. Tiba-tiba Alin datang menghampiri ku.
“Kok
lama banget sih, cha?” Tanya Alin.
“Tas
ku hilang di ambil orang !”
“Kok
bisa hilang?” Tanya Alin.
“Gak
tau.” Jawab ku sambil tertunduk lesu.
Tak lama aku tertunduk lesu, datang
seorang cowok berpostur tinggi sambil menggendong sebuah tas ransel.
“Maaf pak. Sepertinya aku
salah ambil tas. Tas ini bukan milik saya.” Ucap nya sambil meletakkan tas
tersebut di meja pos satpam.
“Tas
itu milik ku.” Aku berteriak tidak sengaja.
“Maaf,
aku salah ambil. Soalnya tas kita sama.” Ucap cowok yang berkulit putih itu.
“Huh..
kamu gimana sih? Gak bisa ya membedakan mana tas milik kamu sama orang lain.
Uuurrgg…!!!” gerutu ku sambil pergi meninggalkan cowok tersebut.
“Hey,
maaf ya..!!!” teriak laki-laki tersebut. Aku mengabaikan permintaan maaf dari
cowok tersebut.
Sesampainya
aku di kelas, aku tertunduk lesu di bangku dengan wajah yang pucat. “Cha, kok
kamu ninggalin aku sih.” Gerutu Alin kepada ku. “Maaf. Aku lupa kalo ada kamu.
Hehehe” Aku mengacak acak rambut Alin. “Aii kau ini. Ini rambut udah rapi malah
kamu berantakin.”
Tiba-tiba
guru telah datang ke kelas kami. Kami pun belajar dengan tenang hingga bel
istirahat berbunyi.
~Teeettt….Teeettt~ bel
berbunyi 2 kali, artinya istirahat. Yippie.. Aku membereskan semua buku di atas
meja ku dan bergegas untuk pergi ke kantin. Ghia, Chika, Alin, Ochie, Izty, dan
Litha. Yeah, itu adalah nama-nama sahabat ku. Aku mengajak mereka untuk pergi
ke kantin.
“Eh..Eh..
Ada apaan tu di kantin?” Tanya ku kepada para sahabat.
“Itu
kan Vino ! Dia tu cowok yang paling guanteng banget di sekolah ini, sayang nya
sii dia tu orang nya cuek.” Jelas Chika.
“What??
Dia kan yang tadi salah ambil tas? Bener gak?”
“Bener
tuh, Cha.” Seru Alin.
“Ah,
biasa saja. Gak ganteng ganteng amat kok.” Ucap ku sambil lewat di depan cowok
tersebut.
Aku
dan para sahabat stay di kantin Mbok
Yem. Tempat langganan kami. “Mbak semuanya mau pesan apa?” Tanya Mbok Yem
kepada kami. “Emm, pesan bakso nya 7 mangkok+Es Jeruknya 7 gelas, mbok.” Ujar
Ghia. “Baiklah, ditunggu ya mbak.”
“Mbok,
kami pesen seperti biasa ya.” Ucap seorang cowok dengan teman teman nya yang
baru datang di kantin Mbok Yem. “Baiklah..”
“Cha,
kok tas kamu bisa kembar sih sama sii Vino?” Tanya Alin sambil memakan bakso
nya. “Mungkin kami ber-2 pernah sama-sama ikut dalam lomba ini.” Aku
menunjukkan tulisan yang ada di tas ku. “Hah? Olimpiade Siswa?” Tanya Izty
kaget. “Kenapa?” Tanya ku heran. “Hehehe.. gak apa-apa kok” cengir Izty.
“Hey,
aku belum minta maaf sama kamu. Aku minta maaf ya.” Ucap Vino yang tiba-tiba
datang menemui ku. “Hah? Oh ya, aku maafin” aku membalas senyuman dari Vino.
“Ehem-Ehem” terdengar suara mendehem dari teman teman nya Vino. Aku jadi
tersipu malu. “Emm, ya udah. Makasih ya.” Vino pergi meninggalkan kami.
Aku
dan para sahabat balik ke kelas. Terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa
kami di pulangkan lebih awal.
“Yippieeeee”
“Yeeeeyyy…
Kita pulang cepat…”
“Horeeee..
Kita teriak bersama ~Ahihiiiiiii~”
Itulah antusiasme dari teman-teman
sekelas ku.
Aku
berjalan menuju pos satpam bersama teman ku Izty. Kami ber-2 memang selalu
menunggu jemputan bersama.
“Echaaa… Ada titipan
salam dari Vino” teriak Aldo yang berlari dari arah berlawanan.
Uuhh… berisik banget. Apaan sih?
Sedikit-sedikit ngomongin Vino. Errrghh.. Aku geram sekali dengan mereka..
“Cha,
kok wajah kamu kusut gitu? Belom di setrika ya?” ledek Izty sambil menimpuk ku
dengan buku catatannya.
“Iya..!!!
Sekarang, wajah ku gak pake setrikaan lagi. Tapi, pake catok..” ucap ku kesal.
“Maaf,
cha. Hehehe”
“Oh
iya, sore ini jangan lupa ya. Kita les Fisika di sekolah.” Ujar ku mengingat
kan
“Siiippp…”
“Okey..
Aku pulang dulu ya”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Hoooaaammm…
Aku terjaga dari tidur siang ku. Aku melihat ke arah jam di dinding kamar ku.
What? Sudah jam 3?? Oh My God. Aku sudah terlambat setengah jam untuk les
Fisika di sekolah. Cepat-cepat aku mengganti baju ku, mengambil tas sekolah,
dan pamit kepada orang tua ku.
Aku
berlari menuju laboratorium Fisika. Ya, laboratorium Fisika adalah tempat
biasanya kami melakukan les di sore hari seperti sekarang ini.
“Permisi. Maaf pak saya
terlambat.”
“Ahaha, tidak apa. Les
baru saja di mulai. Silahkan duduk”
Hah? Les baru saja dimulai? Jantungan
banget deh aku nengernya. Hueft. Gak apa-apa deh. Yang penting aku gak telat.
“Cha,
bentar lagi ada Vino lho.” Bisik Ochie didekat telinga ku. “Kenapa sih?
Daritadi perasaan ngomongin Vino melulu.” Teriak ku.
“Hmm, ada apa Echa?”
Tanya Pak Ahmad kepada ku. “Gak apa-apa, pak. Hehehe” jawab ku gagap. “Kalian
ini ada-ada saja”
“Hihihihihihihi” Ochie
tertawa cekikikan melihat ku. “Ih, ini semua gara-gara kamu.” Gerutu ku. “Maaf,
cha”
1 jam kemudian….
“Baiklah,
les bapak tutup sampai disini.”
“What?
Cepet banget?” celetus ku.
“Bapak
di telpon mendadak, anak bapak sakit di rumah.”
“Baik
lah..”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ “Eh, kita ngapain nih?”
Tanya Litha.
“Foto-foto
aja. D’movis (gank aku dan para sahabat kecuali Alin) kan udah lama gak foto..”
ujar Chika.
“Yang
jadi fotografer nya siapa?” Tanya ku kebingungan.
“Inii
diaa…” ucap Ghia sambil menunjuk Vino yang baru saja tiba di sekolah.
Eeerrghh.. Kenapa sih dimana-mana itu
ada Vino. Gak di pagi, siang, sore, untung aja kalo malem dia gak muncul..
Rasanya aku pengen pulang sekarang.. Tp, gimana?? Uuhh…
“Evan,
ngapain kalian disini?” Tanya Chika.
“Mau
les Fisika.” Jawab Evan.
“Les
sama siapa?”
“Pak
Ahmad.”
“Pak
Ahmad nya gak ada. Anak nya sakit.”
“Waduh,,,
Eemm Vin, kita maen di sekolah dulu aja ya. Pak Ahmad nya gak ada.” Jelas Evan
kepada Vino.
“Ya
udah..” ucap Vino cuek.
Huh.. Apa-apa’an sih? Kok
mereka pake acara stay di sekolah
segala. Pulang donk.. Bosen liat wajah mereka mulu’. Yang bkin aku tambah
kesel, para sahabat ku sibuk sms sama pacar mereka *ini nasib gak punya pacar*.
Tapi, kok jantung ku jadi dag-dig-dug gini ya? Uuhh.. tangan ku dingin.. Jangn
bilang ini gara-gara ada Vino.
“Aku mau pulang…” ucap ku
sambil menuju parkir motor.
“Echa tungguu…” seru
Vino.
“Ada apa?” Tanya ku sok
cuek.
“Emm, gak apa-apa..Hehehe
Hati-hati di jalan ya.”
“Oohh. ya..”
Aku melaju motor dengan kecepatan
sedang.
“Cha,
mau kemana? Tanya Izty.
“Pulang.”
“Ikutan
donk..”
“Ya
udah.. ayoookk…”
Aku mengantar Izty pulang ke rumah
nya.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Huh..
Huh.. Huh.. Besok sekolah kagak ya? *emang nya bsok ad tanggal merah* Behhh…
kalo besok sekolah aku gak mau ketemu Vino. Maluuu >.<. Idih, kok aku
jadi gini sih? Uuhh.. Tanpa aku sadari jarum pendek sudah menunjukkan pukul
09.00pm. Saatnya aku untuk tidur. Selamat Malam, semuanya.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Pagi
yang secerah seperti cerahnya wajah ku. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah.
Jam baru menunjukkan pukul 06.30am, sekolah masih belum banyak
penghuni. Aku memsuki kelas ku, tepatnya sekarang aku sudah duduk di bangku ku.
Aku memeriksa laci meja, oh ternyata ada bingkisan kecil. Aku bingung, perasaan
kemarin laci ku bersih tanpa ada sampah sedikit pun.
“Hey,
cha..” tegur Alin kepada ku yang baru tiba di kelas.
“Hay..”
“Apa
itu?”
“Ntahlah,
seperti bingkisan kecil yang tak ada pemiliknya.”
“Sepertinya
bingkisan itu untuk mu.”
“Aku
tidak yakin.”
“Coba
saja kau buka.”
Aku mencoba membuka
bingkisan kecil itu. Hah, isinya hanya sepucuk surat. Aku bingung, siapa
pengirim surat ini. Ku coba untuk mengingat-ingat siapa yang terakhir keluar
dari kelas kemarin. Ah, apa mungkin Rama yang mengirim surat ini? Aku membaca
surat dari dalam bingkisan tersebut.
Dear Echa,
Sudah lama aku ingin berbicara tentang “sesuatu” dengan mu. Aku harap kau
akan datang ke sekolah sore ini juga. Ku tunggu kedatangan mu.
-Your Secret Admirer-
Uuuhh..
gak penting banget. Mendingan aku buang aja. Jaman sekarang gitu, masih ada
yang pake surat-suratan. Apa sih susah nya kirim e-mail. Eeerrgghh…
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dari
tadi kelas kami tidak ada guru yang mengajar. Kemana hilang nya guru-guru kami?
Hahahaha. Bel istirahat sudah di bunyikan. Kami serentak untuk membawa tas
kemana pun kami pergi. Karena kelas-kelas lain juga begitu.
Aku
dan para sahabat jalan-jalan di taman samping sekolah. Tanpa aku sadari tas ku
di bawa oleh Ghia.
“Tolong
bawain ya. Pundak ku lagi capek nih” ujar ku sambil meledek.
“Huh,
disana ada Vino tuh. Aku letakkin nih tas dekat Vino.” Ghia menggendong tas ku.
“Emang
nya kalian berani?” tantang ku.
“Kenapa
gak berani, coba? Cuma ngeletakkin tas disini doank.” Ujar Alin sambil
meletakkan tas ku di dekat Vino dan kawan-kawan nya.
Oh my God, tas ku.
Ternyata memang benar mereka meletakkan tas ku di dekat Vino. Huh, aku harus
berani mengambil nya.
“Ciyeee…Ciyeee”
“Ini vin, tas nya Echa..”
“Apaan sih?
Aku mencoba untuk merebut
tas ku dari tangan Aldo. Oh tidak, sekarang tas ku sudah berpindah tangan ke
Vino.
“Eh,
kembaliin tas aku.”
“Ciiyeeeee…..”
teriak Rama dan Evan.
“Beriisiiikk”
ujar Vino menutup telinga nya.
Aku berlari menuju
teman-teman ku yang asyik mengobrol di taman. Dengan wajah memerah aku menemui
mereka.
“Ehem” terdengar suara
mendehem dari diri Alin.
“Puas kan kalian, hari
ini..” ucap ku memanas.
“Maaf, cha. Kan Cuma
bercanda.”
“Tapi kan, ini sangat
memalukan!!”
“Maaf Cha. Sekalii lagi
kami minta maaf.”
“Sudah lah, lupakan saja.”
Aku meminum air mineral yang ku bawa
dari rumah. Uuhh.. Malang banget dah nasib tas ku ini. Tapi, kayak nya banyak
banget lho yang nge-fans sama tas kebanggaan ku ini.
Tanpa
kami sadari, jarum pendek sudah menunjukkan pukul 01.00pm. Saatnya
untuk pulang. Yeeeeeyyy…
Aku
berjalan menuju gerbang sekolah….
“Hey..
Don’t forget.” Ujar Vino sambil senyum menyipitkan mata nya.
“What??”
Vino
berlari begitu saja..
“Hey,
maksud mu apa?” Tanya ku tergesa-gesa.
Eerrgghh.. gaje banget nih anak..
Kesel..!!!
“Cha,
mau minum?” tawar Alin.
“Boleh
juga. Halal gak nih?” ledek ku kepada Alin.
“Halal
donk.”
“Hahahahahahahaha”
Aku menikmati minuman yang di beri
oleh Alin. Huh.. coba aja belom aku buang ya surat tadi, kan bisa nanya sama
orang-orang kalo itu tulisan siapa. Nyesel !
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Aaaahhh…
Siang-siang gini enak nya baca novel.
“Echa,
ada temen kamu nih.” Teriak kak Tika dari luar kamar.
“Siapa?”
Tanya ku kesal. Uuh, mengganggu ku saja.
“Ghia,
Ochie, Izty, Chika, & Litha.” Jelas kak Tika.
“Waduh..
satu kampung nih ke rumah.”
“Kamu
tuh cepetan keluar. Jangan hanya ngendep dalam kamar.”
“Iya,
kak.”
Aku keluar dari kamar ku
dengan menggengam buku novel yang ku pinjam dari perpustakaan. Eeerrgghh.. Aku
tidak henti-henti nya menggerutu karena aku sangat kesal, ini waktu ku untuk
membaca novel..!!!
“Ada apa?” Tanya ku cuek.
“Ke sekolah yuk.” Ajak
Chika.
“Ngapain? Mau
potret-potret?”
“Ayoo lah.” Pinta ochie.
“Males.”
“Ayo donk, cha. Sekali
ini aja.” Bujuk Izty.
“Ya udah deh.”
Aku bersiap ke sekolah. Sepertinya
para sahabat ku ini mengajak ku untuk potret-potret. Aku mencoba meminta izin
kepada mama ku.
“Ma,
echa pergi ke sekolah dulu ya.”
“Hati-hati, nak.”
“Iya, ma.”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sekolah
yang tidak berpenghuni. Ya, kata-kata itu sangat tepat untuk sekolah ku jika
sore-sore seperti ini. Sepii banget. Lha, para sahabat ku mana? Kok aku
ditinggal sendirian sih? Uuhhh.. kesel.!
“Echa,,”
panggil seseorang dari arah belakang.
“Vino.
Ngapain kamu disini.?”
“Aku
ingin………”
“Ingin
apa?”
“Aku
ingin mengungkapkan perasaan ku kepada mu.”
“Maksud
nya?”
“Gara-gara
masalah tas kemarin, aku jatuh cinta sama kamu. Jadi, kamu mau gak nerima cinta
aku?”
“Maksud
kamu? Aku gak ngerti?”
“Kamu
mau jadi pacar aku?”
“Aku
harus di beri waktu untuk berpikir”
“Baiklah
akan ku tunggu.”
~Beberapa menit kemudian~
“Bagaimana?”
Tanya Vino
“Sepertinya
aku harus menolak tawaran jika kamu tidak menawarkan aku menjadi pacar mu.”
“Kamu
menerima, Cha?”
“Emm,
ya.”
“Makasih,
Cha.”
Kalo
dipikir-pikir lucu juga ya. Cinta Vino ke aku berawal dari tas kami berdua yang sama.
Komentar
Posting Komentar