#El's 6 (end)
Aku terpaku melihatnya. Senyum itu. Mata ku terasa panas, satu tetes mengalir di pipi ku. Dia berjalan mendekati ku, dengan satu tangan disembunyikan di balik punggungnya. Kini tidak hanya satu tetes, entah sudah berapa tetes yang mengalir di pipi ku. Dia tetap tersenyum melangkah pasti ke arah ku. Di tariknya tangan ku, dan aku hanyut dalam pelukan nya. Aku dapat merasakan detak jantungnya. Aku melepas pelukannya, dan menghapus air mata ku. Kini dia berlutut di hadapan ku.
"Kau tahu, kepergianku bukanlah tanpa alasan. Aku paham, aku mengerti, dan aku terima hukuman apapun yang aku dapatkan karena kesalahanku. Dari aku menjadi taruna hingga sekarang aku masih Egar yang sama. Masih Egar yang sabar menunggu sang permaisuri menerima keberadaannya. Hanya saja sepertinya sang permaisuri telah kecewa dengannya. Oleh karena itu, aku ingin kembali saja. Berlayar menyusuri lautan hingga mungkin ku kan bertemu muara. Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu pada mu."
Aku menarik tangan Egar hingga kini mata kami bertemu.
"Tanyakan gar." ucap ku.
Dia kembali berlutut kepada ku dan..
"Will you marry me?" Egar menunjukkan sebuah kotak cantik yang berisikan cincin berlian.
Aku tak tau ingin berkata apa. Mulut ku kaku. Aku terharu. Apakah aku masih kecewa? Apakah sesungguhnya aku masih cinta?
"Sepertinya akan lebih baik kalau kamu berlayar lebih dulu Carilah dimana muara yang sebenarnya." ucap ku.
"Tidak, aku sudah temukan muara nya. Kamu." dia memasangkan cincin itu di jari manis ku.
Dia menggenggam tangan ku dan membawa ku keluar dari kapal.
"Setelah ini, aku akan datang ke rumah mu membawa rombongan keluarga ku." ucapnya mengantarku menuju mobil.
"Memang tidak ada yang berubah dari kamu. Maaf untuk kejadian sebelumnya dan terima kasih untuk ini." ucap ku pada Egar.
Egar mengecup kening ku. Aku masuk ke dalam mobil dan melihat Kiki sudah tertidur di mobil. Tidak ada yang tahu tentang ini. Hanya aku, Egar dan Tuhan yang tahu.
Dan aku tidak pernah menyangka kalau Egar lah tempat ku berlabuh. Dan Aku adalah tempat Egar menambatkan kapal nya.
*end
"Kau tahu, kepergianku bukanlah tanpa alasan. Aku paham, aku mengerti, dan aku terima hukuman apapun yang aku dapatkan karena kesalahanku. Dari aku menjadi taruna hingga sekarang aku masih Egar yang sama. Masih Egar yang sabar menunggu sang permaisuri menerima keberadaannya. Hanya saja sepertinya sang permaisuri telah kecewa dengannya. Oleh karena itu, aku ingin kembali saja. Berlayar menyusuri lautan hingga mungkin ku kan bertemu muara. Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu pada mu."
Aku menarik tangan Egar hingga kini mata kami bertemu.
"Tanyakan gar." ucap ku.
Dia kembali berlutut kepada ku dan..
"Will you marry me?" Egar menunjukkan sebuah kotak cantik yang berisikan cincin berlian.
Aku tak tau ingin berkata apa. Mulut ku kaku. Aku terharu. Apakah aku masih kecewa? Apakah sesungguhnya aku masih cinta?
"Sepertinya akan lebih baik kalau kamu berlayar lebih dulu Carilah dimana muara yang sebenarnya." ucap ku.
"Tidak, aku sudah temukan muara nya. Kamu." dia memasangkan cincin itu di jari manis ku.
Dia menggenggam tangan ku dan membawa ku keluar dari kapal.
"Setelah ini, aku akan datang ke rumah mu membawa rombongan keluarga ku." ucapnya mengantarku menuju mobil.
"Memang tidak ada yang berubah dari kamu. Maaf untuk kejadian sebelumnya dan terima kasih untuk ini." ucap ku pada Egar.
Egar mengecup kening ku. Aku masuk ke dalam mobil dan melihat Kiki sudah tertidur di mobil. Tidak ada yang tahu tentang ini. Hanya aku, Egar dan Tuhan yang tahu.
Dan aku tidak pernah menyangka kalau Egar lah tempat ku berlabuh. Dan Aku adalah tempat Egar menambatkan kapal nya.
*end
Komentar
Posting Komentar