Korban Ke-17



            “Ta, gue ada berita baru !” ujar Rey kepada Sinta.
            “Berita apaan?” Tanya Sinta pengen tahu.
            “Ternyata, ada “something” di kelas kita !” jawab rey dengan nada ketakuan.
            “Something? Apaan? Emang nya lo tau darimana?” Sinta semakin penasaran.
            “Gini lho, semalem gue sama Aldi ke sekolah. Yaaa, tepatnya ke kelas kita. Trus, Aldi merasakan sesuatu gitu, Ta.” Jelas Rey.
            “Hanya merasakan sesuatu? Ya biasa, gue juga kalo di tempat yang rada angker juga sering gitu.” Sinta tidak mempercayai perkataan Rey.
           
Sinta dan Rey merupakan salah satu murid di sekolah menengah atas populer tepatnya di SMA KENANGA INDAH. Termasuk Aldi dan teman mereka yang lain yaitu Rara dan Syifa. Mereka merupakan 5 sekawan, mereka berasal dari SMP yang berbeda. Walaupun awal nya mereka tidak saling mengenal bukan berarti merak tidak akan menjadi 5 sekawan.

“Hey Semuaaa… Lagi ngapain?” Tanya Syifa yang tiba-tiba datang.
“Kita lagi cerita tentang hantu.. Hihihi” jawab Rey sambil menakut-nakuti Syifa.
“Kalian percaya dengan adanya hantu?” Tanya Syifa.
“Menurut lo?” cercah Rey.
“Hehe.. Sepertinya kalian percaya dengan hantu.” Syifa cengar cengir ga jelas.
“Nah, itu lo tau.” Sinta menyenggolkan sikut nya ke badan Syifa.

Sinta, Syifa, dan Rey akhirnya saling berbagi cerita di kelas kosong mereka. Ini bagian dari kebiasaan setiap hari yang mereka lakukan di sore hari. Mengerjakan tugas bersama di sekolah. Sama seperti Aldi dan Rara, tetapi mereka tidak sekelas dengan Sinta, Syifa, dan Rey. Tanpa mereka ketahui, tiba-tiba ada yang mengintai mereka dari koridor kelas. Ternyata Rey merasakan kalau ada yang mengingai mereka. Sinta san Syifa tetap asyik dengan pembicaraan mereka. Tanpa basa-basi Rey menuju oridor kelsa unruk melihat siapa yang mengintai mereka. Akan tetapi, terjadi hal aneh. Tidak ada satu orang pun yang ada di koridor kelas.

“Hah?” Rey terkaget melihat tidak ada orang di koridor kelas.
“Ada apa Rey?” Tanya Syifa.
“Kok ga ada siapa-siapa ya.” Rey terheran-heran.
“Berarti itu hanya perasaan lo aja. Makaya jangan melamun.” Ujar Syifa.
“Tapi, bukannya tadi ada…….” Belum sempat Sinta melanjutkan pembicaraannya, Rey langsung memotong pembicaraan Sinta.
“Eh..Eh.. Sini deh. Yang ada kok malah anak kucing putih sih.” Rey menunjuk anak kucing putih yang lucu itu.
“Anak kucing? Mana Rey? Mau liat…mau liat…” Syifa langsung menerobos Sinta dan Rey.
Akan tetapi, ketika Syifa ingin mengambil anak kucing tersebut tiba-tiba anak kucing itu lari.
“Syifa, lo mau kemana? Tungguin gue.” Teriak Sinta.

Sinta mengejar Syifa yang mengejar anak kucing putih. Anak kucing putih itu berlari menuju halaman belakang sekolah, tepatnya disebuah rumah yang tidak berpenghuni. Syifa terus mengejar dan berusaha untuk mendapatkan anak kucing lucu itu. Anak kucing itu memasuki rumah tua di balik kebun pisang.

“Huh, gue baru tau kalo dibalik kebon pisang ini ada rumah tua.” Ucap Sinta dalam hati.

Dengan mengumpulkan tenaga keberaniannya, Sinta melewati pohon-pohon pisang yang akan menghantarkannya kedepan pintu rumah tua.

“Sinta, cepetan sini.” Teriak Syifa.
“Iya, ada apa Syifa?” tanya Sinta sambil melompat melewati dedaunan pisang yang jatuh di permukaan tanah.
“Kucingnya hilang.” Ucap Syifa sedih.

Syifa merupakan pecinta kucing. Dia memiliki 4 ekor kucing yang dia pelihara. Akan tetapi, satu kucing meninggal dunia ditabrak mobil seminggu yang lalu.

“Ayo, kita balik ke kelas. Sepertinya yang lain sudah menunggu kita untuk pulang bersama.” Ajak Sinta.
“Sebentar lagi ya. Aku masih ingin mencarinya.” Pinta Syifa.

***

Sementra itu, Rey sangat gelisah dengan keberadaan Sinta dan Syifa. Dia takut ada sesuatu hal yang terjadi pada mereka.
“Hey, Rey ! Sinta dan Syifa mana?” tanya Aldi. Dan Rara yang baru tiba didepan kelas Rey.
“Mereka di halaman belakang sekolah.” Jawab Rey.
“Halaman belakang sekolah? Ngapain?” tanya Rara terkejut.
“Merekaa…..” jawab Rey dengan terbata-bata.
“Mereka ngapaihn Rey?” tanya Aldi.
“Gini lho, Syifa tadi ngejar kucing, eh anak kucing putih. Gak tau nya Sinta juga ikut ngejar Syifa.” Jelas Rey.
“Kok lo ga ikutan?” tanya Aldi.
“Gue males. Lagian gue ga suka kucing.” Jawab Rey.

Mereka ber-3 tetap menunggu Sinta dan Syifa. Tapi mereka tak kunjung dating. Rara khawatir dengan Sinta dan Syifa. Tiba-tiba, Rey merasakan kembali kalau ada yang mengintai mereka. Tapi, ini dari dalam kelas karena mereka sudah di luar kelas.

“Rey, lo ngerasain sesuatu ga?” tanya Aldi.
“Iya, gue ngerasa ada yang mengintai lagi nih.” Jawab Rey.
“Kalian berdua mau nakutin gue ya?” Rara merasa ketakutan.
“Ini serius Ra, ga ada yang ditakutin.” Jelas Aldi.
“Lagi-lagi…………..” keluh Rey.
“Lagi-lagi apa, Rey?” tanya Aldi.
“Lagi-lagi ada yang mengintai gerak-gerik kita, bro !” jelas Rey.

Rey mulai curiga dengan anak kucing putih tadi yang ada diluar kelas. Akan tetapi, Rey akan tetap berpositif thinking.

“Kucingnya ada?” tanya Rara.
“Kucingnya hilang.” Ringis Syifa.
“Yaudah kalo gitu, besok kita cari lagi kucingnya.” Bujuk Aldi.
“Yok kita pulang.” Ajak Rey.

***
Keesokan harinya…
Hari ini hari libur. Pagi-pagi sekali Rey dan Sinta ke belakang halaman sekolah, Rey mengajak Sinta unruk mengintai rumah tua yang di ceritakan oleh Sinta semalam.
“Ngapain sih pagi-pagi gini lo ngajak gue ke halaman belakang ga jelas ini?” gerutu Sinta.
“Gue penasaran sama cerita lo semalem.” Jawab Rey.
“Ah, ga penting kali.” Ucap Sinta.
“Penting. Siapa tau kita bisa nemuin anak kucing kesukaan Syifa.” Jelas Rey.
“Terserah lo !” ucap Sinta kesal.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkan Rey dan Sinta. Ternyata dia adalah penjaga sekolah mereka.

“ Ya ampun Bapak ngejutin kita aja.” Ucap Rey.
“Hehe, kalian sedang apa?” tanya Pak Supri.
“Cari kucing.” Jawab Sinta.
“Kucing apaan?” tanya Pak Supri.
“Anak kucing, pak. Unyu-unyu.” Jawab Rey.
“Terserah kalian deh. Aneh !” ucap Pak Supri.

Rey terlihat sibuk dengan handphone nya. Sepertinya dia sedang mengirip pesan singkat kepada Aldi, Rara, dan Syifa. Dan tak perlu menunggu lama Aldi, Syifa, dan Rara pun datang. Wajah Syifa terlihat sangat senang ketika mendengar bahwa teman-temannya ingin membantu untuk mencari anak kucing putih kesukaannya itu.
Mereka terus mencari di sekeliling halaman rumah tua itu. Akan tetapi tetap tidak ditemukan anak kucing putih itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di kelas mereka. Tiba-tiba….

“Hey anak-anak..” ucap seseorang yang sudah tua datang mengenakan jubah hitam.
“Anda siapa?” Tanya Sinta.
“Maaf, mengganggu kalian. Mungkin penampilan saya membuat kalian takut.” Ucap beliau.
“Anda siapa?” Tanya Sinta dengan nada yang agak keras.
“Saya pemilik rumah tua itu. Saya lihat daritadi kalian semua berkeliling di halaman rumah saya. Ada apa?” Tanya bapak tua itu.
“Kami sedang mencari anak kucing.” Cetus Syifa.
“Anak kucing putih ya?” Tanya bapak tua itu dengan pandangan menyeramkan.
“Iya. Bapak tau dengan anak kucing itu?” Rara mulai berani untuk berbicara.
“Anak kucing itu milik saya. Sekarang dia sedang bermain keluar. Saya tau, pasti nak Syifa menginginkan anak kucing itu bukan?” bapak tua itu mendekati Syifa.
“Iya, pak. Saya sangat menginginkannya.” Ucap Syifa.
“Malam nanti ke rumah bapak saja. Karena kalau di malam hari kucing nya akan pulang ke rumah.” Jelas pak tua.
***
Malam hari di sekolah….
Sinta, Rey, Aldi, Rara, dan Syifa bersepakat untuk pergi ke rumah tua. Akan tetapi, tiba-tiba Aldi menolak dengan alasan dia takut gelap.
“Ayo lah, Al. Lo itu laki ! Lo penakut banget.” Ucap Rey.
“Iya nih.. Aldi payah !” sambung Rara.
“Iya…Iya… Gue ikut ! Takut amat kalo gue ga ikutan !” gerutu Aldi.

Akhirnya mereka berjalan menyusuri kebun pohon pisang. Akan tetapi, meteka meraasa kalau mereka tidak pernah sampai ke rumah tua itu. Prasaan mereka rumah tua itu sangatlah jauh. Tanpa mereka ketahui tiba-tiba Rey menghilang. Akan tetapi, SInta, Aldi, Rara, dan Syifa tidak merasakan kalau Rey telah hilang.

***
“Dimana aku?” teriak Rey.
“Jangan takut anak muda. Aku disini ingin menolong mu.” Ucap bayangan putih di hadapan Rey.
“Aku ingin bersama teman-temanku.” Teriak Rey.
“Dengarkan aku, kalian telah ditipu oleh bapak tua tadi. Dia adalah “penunggu” pohon pisang terbesar di sekolah kalian. Dan kucing putih itu merupakan kakak kelas kalian yang telah lama hilang. Dia bunuh diri dengan cara gantung diri di pepohonan besar di tengah-tengah kebun pisang itu. Dia menginginkan orang-orang disekitarnya bernasib sama sepertinya. Meninggal dengan cara gantung diri.” Jelas bayangan putih.
“Memangnya kakak kelas kami itu gantung diri karena apa?” Tanya Rey ketakutan.
“Ketika dia berusia ke-17 tahu dia mengalami depresi yang sangat hebat karena pacarnya yang selingkuh darinya. Selain itu juga dia mendapat hasyutan dari bapak tua “penunggu” pohon pisang itu untuk bunuh diri. Dan dia akan selalu gentayangan sekitar sekolah untuk mencari korban.” Jelas bayangan putih.
“Trus hubungan sama kita apa?” Tanya Rey.
“Diantara kalian akan menjadi korban dari gadis tragis itu.” Ucap bayangan putih itu. Dan jleb. Bayangan itu hilang seketika. Dan Rey kembali ke dunia manusia. Dan berada bersama teman-temannya kembali.
***
Rey mulai gelisah ketika mendekati rumah tua. Rey takut kalau akan terjadi apa-apa diantara teman mereka.
“Rey, lo kenapa?” Tanya Sinta.
Akhirnya Rey menceritakan semua yang dia dengar dari bayangan putih tadi.
“Mungkin itu hanya khayalan lo.” Ketus Sinta.
“Tapi…..”

Rey tetap mengikuti Sinta, Rara, Aldi, dan Syifa dengan perasaan campur aduk. Rey melihat Syifa semangat sekali untuk mendapatkan anak kucing putih itu. Rey sayang dengan Syifa, dia takut kalau nyawa Syifa sedang ada di tangan hantu itu.

“Kreeeeekkk..” Bunyi pintu rumah tua terbuka.

Syifa langsung masuk saja ke rumah tua itu. Rey langsung mengejar Syifa masuk kedalam rumah.

“Rey.. Tunggu !” teriak Aldi, Rara, dan Sinta..
“Syifaaa !” teriak Rey.
“Rey, tolong ! Eeerrrgghhh…” Syifa meminta tolong kepada Rey dengan leher terikat tali yang digantung di plafon rumah.
“Syifaaa,” Teriak Sinta.
“Kalian semua !” teriak bapak tua dan bersama seorang remaja yang berusia 17 tahun.
“Kau ! Lepaskan teman kami !” teriak Aldi.
“Lepaskan Syifa sekarang !” teriak Rara.
“Terima kasih atas kedatangan kalian malam ini.” Ucap bapak tua dan remaja 17 tahun tersebut.
“Greekk” terdengar suara kursi jatuh di lantai.. Dan kursi itu dijatuhkan sendiri oleh Syifa.
“Syifaaaaaaaaaaaaaa” teriak Sinta sambil menangis.

Syifa tergantung lemas dengan ikatan tali di lehernya. Dan tak bernyawa.
***

            Keesokan harinya… Sinta, Rey, Aldi, dan Rara di temukan pingsan di bawah pohon besar di tengah kebun pisang dengan leher terikat tali. Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana jasad Syifa yang meninggal gantung diri.
                                                                     SELESAI

by : Elsa Sinthiya Anggraeni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RAMBU LAUT : LORAN DAN DECCA

15-05-2015 : LULUS !

Salah Ku